Suatu hari nanti tatkala waktu itu tiba,
Dunia yang
tadinya pandai bernarasi,
Sekejap menjelma
keheningan yang syahdu,
Merenungkan kembali peristiwa-peristiwa lampau.
Tempo hari
sewaktu senja meninggalkan bumi,
Langit patah
hatinya seolah tak ingin melihat senja pergi,
Ia
menurunkan hujan menghibur bumi dan anak-anaknya,
Termasuk gelombang, awan, dan angin yang berbelangsungkawa.
Gelombang
marah pada langit sebab tak adil pada kehidupan,
Ia berteriak
di lautan membuat para nelayan ketakutan.
Awan pun
demikian, sekejap menjelma badai yang dahsyat,
Dan angin
memporak-porandakan keadaan bumi,
Membuat langit khawatir bila terjadi sesuatu pada bumi.
Langit
mengirimkan fajar menemani bumi dan anak-anaknya,
Fajar mendampingi
bumi merawat anak-anak senja,
Tetapi
cintanya tak setulus cinta senja pada anak-anaknya,
Gelombang, awan, dan angin kehilangan cinta sang bunda.
Setelah
dewasa,
Gelombang
pergi ke barat, Awan ke timur,
Sementara Angin memilih pergi ke selatan.
Mencari senja,
Yang katanya
sewaktu-waktu akan muncul,
Tatkala
merindukan bumi.
(Mei, 2025)

0 Komentar