Malam itu angin begitu dingin. Pemandangan sekitar, yang sejak siang tadi hanya gumpalan kabut, kini menjelma cahaya nan indah.
Cahaya itu bukan berasal dari bintang-gemintang. Bukan pula dari kunang-kunang. Cahaya itu berasal dari pijaran lampu yang dalam sepersekian detik secara serentak menyala bersamaan.
Malam itu saya berada di suatu ketinggian di kota Bogor. Di ini tempat, saya berkesempatan menyaksikan keindahan suatu kota di malam hari.
Hati begitu tenang menikmati keindahan itu. Dinginnya angin, dan sunyinya malam seolah menemani saya.
Lirik-lirik lagu yang dilantunkan seorang penyanyi di tempat nongkrong bernama Kopi Abdi itu pun, ikut menghibur suasana malam itu. Saya dan beberapa teman asyik menikmati momentum itu.
Pergi ke tempat yang sunyi bukanlah suatu pelarian dari keramaian kota. Setidaknya, tempat yang sunyi memberikan saya sedikit keheningan serta ketenangan untuk kembali merenungkan apa yang sudah terjadi dengan diri ini.
Malam itu, saya bersahabat dengan angin yang begitu dingin. Saya seolah melupakan bintang. Apalagi rembulan.
Perhatian saya kini hanya tertuju pada keindahan kota yang ada di depan mata saya.
Di tempat nongkrong bernama Kopi Abdi itu, saya begitu menikmati suasana yang ada.
Bukan secangkir kopi yang menemani. Bukan pula dua potong pisang goreng atau sepiring nasi goreng.
Hanya sekumpulan lirik lagu yang dinyanyikan seorang penyanyi dengan suara yang begitu merdunya.
Di tempat nongkrong itu, kau akan dimanjakan dengan suasana yang tak biasa. Suatu suasana yang jarang kau dapatkan di tengah ibu kota.
Sesekali, cobalah bergegas pergi berteman dengan alam yang sepi, supaya kau dapat mengerti betapa hidup ini juga butuh keheningan.
[Bogor, 2023]


0 Komentar